Jakarta, 6 Agustus 2026 – Direktur Produksi PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), Dindin Rajidin, menegaskan bahwa hilirisasi bauksit merupakan fondasi penting dalam membangun kedaulatan industri aluminium nasional. Hal tersebut disampaikan saat menjadi narasumber pada Grand Seminar Mining Nation Revolution 2026 yang diselenggarakan oleh HIPMI Jakarta Selatan bersama HIPMI Miners di The Ballroom at Pondok Indah Golf Course, Jakarta, Kamis (6/8).
Mengangkat tema “Tantangan & Peluang Industri Hilirisasi Bauksit & Alumina untuk Kedaulatan Industri Aluminium di Indonesia”, Dindin memaparkan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak hanya bergantung pada pembangunan fasilitas pemurnian (smelter), tetapi juga membutuhkan integrasi pasokan bijih domestik, kesiapan infrastruktur, kepastian regulasi, serta penguatan rantai pasok industri dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar menjadi pemain utama industri aluminium dunia apabila mampu mengoptimalkan nilai tambah sumber daya mineral melalui pengolahan di dalam negeri.
“Melalui hilirisasi bauksit menjadi alumina, kami memperkuat kemandirian dan daya saing industri aluminium Republik Indonesia di panggung global,” ujar Dindin.
PT Borneo Alumina Indonesia merupakan perusahaan pengolahan mineral yang fokus mengolah bijih bauksit menjadi Smelter Grade Alumina (SGA). Perusahaan ini merupakan hasil sinergi dua BUMN, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), yang memiliki peran strategis dalam mendukung program hilirisasi nasional.
Dalam paparannya, Dindin menjelaskan sejumlah tantangan yang masih dihadapi industri hilirisasi, di antaranya kebutuhan investasi besar untuk pembangunan fasilitas pemurnian yang modern dan efisien, ketersediaan energi yang stabil dengan biaya kompetitif, hingga dinamika rantai pasok global yang dipengaruhi fluktuasi harga komoditas serta persaingan pasar internasional.
Namun demikian, ia melihat peluang industri hilirisasi masih sangat besar. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, investor, akademisi, dan regulator menjadi faktor penting dalam mempercepat terciptanya ekosistem industri mineral yang berdaya saing tinggi.
Selain sesi seminar, Grand Seminar Mining Nation Revolution 2026 juga menghadirkan talkshow, mini exhibition, serta business matching yang bertujuan membuka peluang investasi dan memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung hilirisasi energi dan mineral berkelanjutan.
Menutup paparannya, Dindin menegaskan bahwa komitmen PT Borneo Alumina Indonesia tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga pembangunan industri yang berkelanjutan.
“Seperti pohon yang mengakar dalam, komitmen keberlanjutan kami tumbuh dari pemahaman mendalam bahwa setiap keputusan hari ini akan menjadi warisan bagi generasi mendatang.”
Melalui penguatan hilirisasi bauksit menjadi alumina, PT Borneo Alumina Indonesia optimistis Indonesia mampu memperkokoh posisi sebagai negara yang mandiri dalam industri aluminium sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global.













