Example floating
Example floating
Uncategorized

Friendcom Dorong Teknologi Komunikasi Hybrid untuk Perkuat Smart Grid dan Jaringan Distribusi Listrik

Avatar photo
787
×

Friendcom Dorong Teknologi Komunikasi Hybrid untuk Perkuat Smart Grid dan Jaringan Distribusi Listrik

Sebarkan artikel ini

Indo-pos.id||JAKARTA – Transformasi jaringan listrik menuju sistem yang semakin cerdas membutuhkan dukungan teknologi komunikasi yang mampu menghubungkan berbagai perangkat secara cepat, adaptif, aman, dan andal. Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam panel discussion EPI–PJCI GridNext Symposium 2026 bertema “Distribution Automation & Self-Healing Networks” di JI-Expo Kemayoran, Jakarta, Kamis (03/09/26).

Chief Technical Officer Asia Pacific PT Friendcom Tech Indonesia, Julius Dethan, menjadi salah satu pembicara dalam forum tersebut bersama Technical Director PT Syntek Otomasi Indonesia Andreas Yonas dan Power & Grid Segmen Leader PT Schneider Indonesia Harman Santoso.

EPI–PJCI GridNext Symposium 2026 diselenggarakan oleh Perkumpulan Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) bekerja sama dengan Electric & Power Indonesia (EPI), serta didukung PT Pamerindo Indonesia sebagai bagian dari rangkaian pameran Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series – Energy Week 2026.

Dalam paparannya, Julius menjelaskan bahwa pengembangan smart grid tidak hanya bergantung pada teknologi aplikasi, tetapi juga membutuhkan integrasi antara teknologi informasi, perangkat (device) dan teknologi komunikasi sebagai satu kesatuan sistem.

Menurut Julius, arsitektur jaringan distribusi dapat dilihat melalui tiga lapisan utama, yakni perception layer, network layer, dan application layer. Pada perception layer, berbagai perangkat seperti sensor, gateway, circuit breaker, transformer, serta perangkat lainnya menangkap data dan parameter dari jaringan distribusi.

“Yang paling menarik sebenarnya adalah aplikasi skenarionya. Ini memberikan gambaran secara keseluruhan bahwa ada kesatuan dari teknologi informasi, teknologi device dan juga komunikasi,” ujar Julius.

Ia menjelaskan, network layer berperan sebagai penghubung antara perangkat di lapisan persepsi dengan berbagai aplikasi di tingkat atas. Sementara pada application layer terdapat sistem seperti SCADA, DMS, OMS, digital twin, maupun aplikasi lain yang digunakan untuk pengelolaan dan pengawasan jaringan listrik.

Julius menegaskan bahwa Friendcom memiliki fokus pada teknologi komunikasi. Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah sistem komunikasi hybrid yang menggabungkan PLC (Power Line Communication) dengan RF (Radio Frequency).

Menurutnya, penerapan teknologi komunikasi hybrid tersebut telah berkembang di China. Friendcom menjadi salah satu perusahaan yang mengembangkan teknologi hybrid PLC dan RF, yang kemudian digunakan dalam infrastruktur komunikasi jaringan listrik.

“Untuk teknologi komunikasi, advancement dan apa saja, itu sudah fully hybrid di China sampai hari ini,” katanya.

Julius menjelaskan, terdapat sejumlah keunggulan dari pendekatan komunikasi hybrid. Sistem tersebut memungkinkan penggunaan berbagai media dan mode komunikasi, termasuk melalui powerline, RF, serta perangkat sensor berbasis low power atau IoT. Teknologi tersebut juga dapat menggabungkan jaringan berbasis mesh dan star untuk membangun sistem komunikasi yang lebih fleksibel.

Salah satu faktor penting dalam keberhasilan teknologi tersebut, menurut Julius, adalah adaptive communication. Teknologi ini memungkinkan jaringan beradaptasi secara dinamis dalam menentukan jalur komunikasi yang paling efektif berdasarkan kondisi jaringan.

“Adaptive communication memungkinkan network itu bisa berubah secara dinamik,” jelasnya. Ia mencontohkan gangguan noise yang dapat muncul pada PLC akibat penggunaan perangkat seperti inverter. Dalam kondisi tersebut, RF dapat menjadi jalur alternatif sehingga komunikasi tetap dapat berlangsung.

Dalam menentukan jalur komunikasi, terdapat sejumlah parameter yang menjadi pertimbangan, antara lain tracing, signal strength, signal noise ratio, data rate, dan communication success rate. Kelima parameter tersebut digunakan untuk membantu sistem menentukan jalur komunikasi yang paling optimal.

Julius juga memaparkan pengalaman penerapan teknologi komunikasi hybrid pada jaringan listrik di China. Ia menyebut terdapat sekitar 600 juta perangkat yang telah terpasang pada jaringan State Grid maupun China Southern Grid dengan berbagai skema komunikasi. Menurutnya, penggunaan teknologi hybrid dapat meningkatkan efisiensi komunikasi sekitar 30 persen, dengan peningkatan sejumlah indikator kinerja jaringan.

Selain aspek keandalan komunikasi, Julius menekankan pentingnya keamanan siber dalam pembangunan jaringan listrik cerdas. Ia menjelaskan konsep security by design, yaitu keamanan yang telah diperhitungkan sejak tahap perancangan perangkat, termasuk pada tingkat chip.

“Security-nya bukan lagi di level software atau simulator, tapi menggunakan chip-level,” ungkapnya.

Dalam penerapannya, sistem keamanan tersebut mencakup chip security, autentikasi dan otorisasi, channel encryption, serta mekanisme pengamanan komunikasi lainnya. Pendekatan tersebut dinilai penting karena infrastruktur jaringan listrik merupakan bagian strategis yang membutuhkan tingkat keamanan dan keandalan tinggi.

Pada bagian akhir paparannya, Julius menegaskan bahwa pembangunan jaringan distribusi cerdas harus dilakukan secara terintegrasi. Perangkat di tingkat perception layer, jaringan komunikasi pada network layer, serta aplikasi seperti SCADA, DMS, OMS dan digital twin harus dirancang untuk saling mendukung.

“Bagaimana cara membangun jaringan? Kita selalu berangkat dari desain tingginya adalah membuat konsep device, network, aplikasi. Tiga itu adalah menjadi kunci keberhasilan,” pungkas Julius.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *