Jakarta, 20 Mei 2026 – PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), serta Public Expose Tahunan di Skenoo Hall Emporium Pluit, Jakarta, Rabu (20/05/26).
Dalam paparannya, manajemen menyampaikan optimisme terhadap prospek industri kelapa sawit sepanjang 2026, meski di tengah tantangan geopolitik global dan kenaikan biaya operasional.
Direktur Keuangan & Pengembangan PT Cisadane Sawit Raya Tbk, Seman Sendjaja, mengatakan keberhasilan perusahaan bertahan hingga lebih dari 42 tahun tidak terlepas dari strategi pertumbuhan organik (organic growth) yang dijalankan secara konsisten dan konservatif.
Menurutnya, sejak awal perusahaan tidak pernah melakukan akuisisi perkebunan yang sudah jadi, melainkan lebih memilih mengembangkan proyek greenfield dengan mengambil alih perusahaan yang telah memiliki izin lahan, kemudian membangun kebun secara bertahap.
“Selama ini kami berkembang secara organik. Kami tidak pernah melakukan akuisisi kebun yang sudah jadi. Hampir seluruh pengembangan dilakukan melalui greenfield project, sehingga pertumbuhannya memang lebih lambat, tetapi lebih terukur dan berkelanjutan,” ujar Seman Sendjaja.
Ia menjelaskan, ekspansi besar perusahaan baru dimulai pada 2007. Sejak saat itu, CSRA terus memperluas area perkebunan secara bertahap di Sumatera Utara dan Sumatera Selatan.
“Kami sadar kemampuan modal perusahaan, sehingga pertumbuhan dilakukan secara konservatif. Namun strategi itu justru membuat perusahaan mampu bertahan dan berkembang hingga sekarang,” katanya.
PT Cisadane Sawit Raya Tbk sendiri merupakan perusahaan agroindustri kelapa sawit yang berkantor pusat di Jakarta. Hingga akhir 2025, perusahaan memiliki kebun di Sumatera Utara dan Sumatera Selatan dengan total luas sekitar 29.000 hektare.
Dalam Public Expose tersebut, manajemen juga mengungkapkan bahwa industri sawit masih berada dalam kondisi yang cukup positif. Seman menilai dinamika geopolitik global, termasuk konflik internasional, justru berdampak terhadap kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO).
“Sejak pandemi Covid-19 hingga saat ini, harga CPO cenderung meningkat. Ditambah dinamika geopolitik dunia, harga CPO justru masih cukup baik bagi industri sawit,” ujarnya.
Perseroan menargetkan penjualan tahun 2026 dapat menembus Rp2 triliun, meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp1,8 triliun.
“Jika target penjualan Rp2 triliun tercapai, kami berharap laba bersih juga bisa menembus sekitar Rp300 miliar, tentunya dengan tetap memperhatikan dinamika harga CPO dan kenaikan biaya operasional,” jelasnya.
Meski demikian, manajemen tetap berhati-hati terhadap kenaikan biaya produksi, terutama harga pupuk dan solar industri. Saat ini harga solar industri telah mencapai sekitar Rp30 ribu per liter.
Untuk mengantisipasi kenaikan biaya energi, perusahaan mulai melakukan uji coba penggunaan alat berat berbasis listrik (electric vehicle/EV), termasuk wheel loader listrik untuk operasional perkebunan dan pabrik.
“Kami mulai mencoba penggunaan alat berat listrik sebagai bagian dari efisiensi energi dan upaya menuju pengurangan emisi karbon,” kata Seman.
Selain itu, perusahaan juga memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan cangkang sawit. Dengan penggunaan boiler generasi baru yang lebih efisien, kebutuhan bahan bakar cangkang berkurang sehingga menghasilkan surplus cangkang yang dapat dijual.
“Sekarang boiler kami jauh lebih efisien, sehingga sisa cangkang yang bisa dijual meningkat signifikan. Ini menjadi tambahan pendapatan baru bagi perusahaan,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Operasional PT Cisadane Sawit Raya Tbk Vivery Jerry Denny Walukow menyampaikan target produksi tandan buah segar (TBS) pada 2026 mencapai sekitar 378.800 ton atau meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sedangkan target pengolahan pabrik ditetapkan mencapai sekitar 700.000 ton, meningkat signifikan dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar 502.000 ton.
“Kami optimistis semester kedua tahun ini akan menjadi puncak produksi karena pola panen dan pemeliharaan tanaman yang semakin baik. Kami berharap pencapaian produksi bisa mencapai 95 hingga 100 persen dari target,” ujarnya.
Manajemen juga menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan bisnis sesuai prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) serta mematuhi seluruh regulasi pemerintah.
Dengan strategi pertumbuhan organik, efisiensi biaya, dan inovasi teknologi yang terus dikembangkan, PT Cisadane Sawit Raya Tbk optimistis dapat menjaga kinerja positif dan memperkuat posisi perseroan di industri kelapa sawit nasional.













